Kisah Rasulullah Mencoret Tujuh Kata

Sepotong sejarah penting dari banyak kisah perjalanan Islam periode awal adalah perjanjian hudaibiyah. Peristiwa ini tidak hanya menggambarkan ketegangan militer antara umat Islam dan musyrikin Quraisy tapi juga jejak diplomasi Rasulullah SAW.

Kesepakatan yang juga dikenal dengan sebutan ”shulhul hudaibiyah” tersebut bermula dari rencana sekitar 1400 pengikut Rasulullah untuk menunaikan ibadah haji. Kaum musyirikin tidak rela. Mereka berupaya menghalangi pintu masuk kota Makkah dengan kekuatan militer yang cukup besar. 
Rasulullah yang tidak menginginkan peperangan pun lantas mengambil jalur perundingan.  Hasilnya, pada bulan Maret 628 M atau Dzulqaidah 6 H, perjanjian hudaibiyah diputuskan, di antaranya menyepakati adanya gencatan senjata dan kesempatan beribadah umat Islam di Makkah.

Hanya saja, perundingan ini sempat berlangsung alot dan cenderung merugikan umat Islam. Contohnya, muncul penolakan-penolakan terkait dengan sebagian redaksi pembuka perjanjian yang diusulkan Rasulullah, sebagaimana diterangkan dalam kitab Hayatus Shahabat. 
”Tulislah bismillahirrahmanirrahim (atas nama Allah yang maha rahman lagi maha rahim),” perintah Nabi kepada juru tulisnya, Ali bin Abi Thalib. 
”Ar-Rahman? Aku tak mengenal dia,” sahut perwakilan musyrikin Quraisy, Suhail bin Amr, memberontak. ”Tulis saja bismika allahumma seperti biasanya!” 
Umat Islam yang mengikuti proses perundingan tidak terima dengan protes ini. Mereka mengotot akan tetap mencantumkan lima kata yang sangat dihormati itu (bi, ism, allah, ar-rahman, ar-rahim).
”Tulis saja bismika allahumma,” Nabi menenangkan. 
Nabi kemudian menyambung, ”Tulis lagi, hadza ma qadla ’alaih muhammad rasulullah (Inilah ketetapan Muhammad rasulullah).” 
”Sumpah, seandainya kami mengakui Engkau adalah rasulullah (utusan Allah), kami tak akan menghalangimu mengunjungi Ka’bah. Jadi tulis saja Muhammad bin Abdullah,” Suhail kembali memprotes.
”Sungguh aku adalah rasulullah meskipun Kalian mengingkarinya.” Akhirnya Nabi mengabulkan tuntutan musyrikin Quraisy untuk mencoret dua kata lagi, rasul dan allah. ”Tulislah Muhammad bin Abdullah saja,” pintanya kemudian. 
Menghindari pertikaian dan pertumpahan darah adalah sikap yang dijunjung tinggi Rasulullah. Perdamaian menjadi prioritas tujuan, meski isi kesapakatan "mengurangi" kebesaran nama agama pada tataran simbolis.
Penggalan sejarah ini megingatkan kita pada sejarah penyusunan asas Pancasila. Demi persatuan dan kerukunan bangsa Indonesia, Piagam Jakarta yang memuat butir sila pertama ”Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” akhirnya diubah. Mayoritas ulama dan umat Islam Tanah Air menyepakati pencoretan tujuh kata dalam butir itu sehingga menjadi ”Ketuhanan Yang Maha Esa”. (Mahbib Khoiron)

Perkataan “Seandainya” Membuka Pintu Setan



Terkadang seseorang mengucapkan kata-kata yang dia kira itu hanyalah kata-kata yang ringan dan sepele padahal perkataan tersebut merupakan sesuatu yang bisa mendatangkan murka Allah ta’ala. Sehingga, bisa jadi seseorang dilemparkan ke dalam api neraka karena ia tidak mau berhati-hati dengan perkataannya. Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَ إِنَّ العَبْدَ لَيَتكلَّمُ بالكَلِمَةِ مِنْ سُخْطِ اللهِ لا يُلْقي لَهَا بالاً يَهوى بها فى جَهَنَّمَ
“Sungguh seseorang mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karenanya dia dilemparkan ke dalam api neraka”.(HR. Bukhari no. 6478 dalam Kitabur Riqaq, Bab “Menjaga Lisan”)
Perkataan ‘seandainya’
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلا تَعْجِزَنَّ , وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلا تَقُلْ : لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَ كَذَا , وَلَكِنْ قُلْ : قَدَرُ اللهِ وَ مَا شَاءَ فَعَلَ , فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Bersungguh-sungguhlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusan), serta janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu (kegagalan), maka janganlah kamu mengatakan, ‘seandainya aku berbuat demikian, pastilah tidak akan begini atau begitu’. Tetapi katakanlah, ‘ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat sesuai dengan apa yang dikehendaki’. Karena sesungguhnya perkataan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan setan”. (HR. Muslim no. 2664)
Maksud dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya perkataan seandainya membuka (pintu) perbuatan setan adalah karena di dalam kata-kata seandainya menunjukkan adanya kesedihan yang mendalam dan mencela terhadap takdir Allah ta’ala ketika seseorang tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Sedangkan sikap yang demikian ini meniadakan sikap sabar dan ridha terhadap takdir Allh ta’ala. Padahal, sebagaimana yang sudah diketahui bahwa sabar hukumnya wajib. Dan begitu juga dengan iman kepada takdir Allah, hal ini juga merupakan kewajiban bagi setiap orang.
Allah ta’ala berfirman,
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيْبَةٍ فِي الأَرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ # لِكَيْلَا تَأْسَوْهَا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَا ءَا تَكُمْ وَاللهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَا لٍ فَخُوْرٍ #
“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya, sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira dengan apa yang Dia berikan untukmu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Al-Hadiid: 22-23)
Amiirul mukminin Ali radhiallahu ‘anhu berkata: “Sabar adalah sebagian dari iman, sebagaimana kedudukannya kepala terhadap badannya.” (Derajat Hasan, diriwayatkan oleh Abu Dawud (3627), An-Nasaa’i dalam Al-Kubra (1462) dan Ahmad (6/24))
Oleh karena itulah, jika kita tertimpa suatu musibah atau sesuatu yang tidak kita harapkan, maka sepantasnya bagi kita adalah bersabar dan menerima terhadap apa yang telah menjadi ketentuan Allah ta’ala dan tidak perlu mengatakan, “seandainya tadi aku tidak melakukan hal ini, tentulah kejadiannya akan berbeda” atau kata-kata yang semisalnya.
Karena meskipun kita mengatakan “seandainya begini atau begitu, maka tidaklah akan terjadi hal ini”, ucapan ini tidak akan menyebabkan apa yang telah hilang dari kita bisa kembali lagi. Dan perlu diketahui bahwa perkataan yang seperti ini juga tidak akan menyelesaikan masalah yang ada. Bahkan hal ini justru bisa menambah kesusahan dalam jiwa.
Pembagian Kata Seandainya
Syaikh As-Sa’diy dalam Al Qoulus-Sadiid menjelaskan bahwa ucapan seandainya terbagi menjadi dua macam, yaitu Tercela dan Terpuji.
Perkataan Seandainya yang Tercela
Perkataan seandainya tercela jika diucapkan ketika seseorang tertimpa suatu musibah atau sesuatu yang tidak disukai oleh dirinya. Lalu dia mengatakan, ‘Seandainya aku berbuat begini, pastilah kejadiannya tidak akan seperti ini’. Maka perkataan “seandainya” yang seperti inilah yang terlarang. Karena dalam perkataan ini terdapat dua hal yang perlu untuk diwaspadai. Yaitu,
Pertama, karena perkataan seperti ini dapat membuka pintu penyesalan dan kesedihan yang berkepanjangan. Sedangkan sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa kedua hal tersebut tidaklah bermanfaat dan sudah sepantasnya untuk dibuang jauh-jauh.
Kedua, karena dalam perkataan tersebut terdapat tindakan yang tidak baik terhadap Allah ta’ala dan takdir-Nya. Karena semua perkara dan semua kejadian baik itu kecil maupun besar, semuanya terjadi berdasarkan takdir yang telah Allah ta’ala tentukan. Dan semua perkara yang telah ditentukan oleh Allah ta’ala adalah pasti terjadi dan tidak mungkin bisa ditolak. Maka, seseorang yang mengatakan “seandainya aku berbuat begini atu begitu” atau mengatakan “seandainya aku berbuat begini, pastilah kejadiannya akan lain”, seakan-akan perkataan-perkataan tersebut adalah penolakan terhadap takdir Allah‘azza wa jalla. Dan perkataan seperti ini juga menunjukkan akan lemahnya keimanan terhadap takdir Allah ta’ala.
Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa perkataan “seandainya” perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan keimanan dan ketauhidan seseorang menjadi tidak sempurna. Karena orang yang tidak menyukai takdir Allah ta’ala, sama saja dia dengan menolak takdir Allah ta’ala. Dan orang yang menolak takdir, sama saja dia tidak rela jika Allah ta’ala adalah sebagai Rabb. Dan siapa yang tidak rela jika Allah sebagai Rabb nya, maka orang tersebut sama saja dengan tidak merealisasikan Tauhid Rububiyyah.
Dan yang menjadi kewajiban bagi setiap orang yang beriman adalah dia rela jika Allahta’ala sebagai pengatur dirinya. Dan ia rela dengan setiap keputusan Allah yang telah ditentukan Allah ta’ala untuk dirinya.
Perkataan “Seandainya” yang Terpuji (yang diperbolehkan)
Adapun perkataan “seandainya” yang diperbolehkan (yang terpuji) adalah kata “seandainya” yang diucapkan oleh seseorang ketika ia mengharapkan suatu kebaikan. Hal ini sbagaimana perkataan seorang laki-laki ketika mengharapkan sebuah kebaikan,“seandainya aku memiliki harta semisal dengan apa yang dimiliki oleh si fulan, sungguh aku akan melakukan seperti apa yang dilakukan oleh si fulan” (laki-laki ini berharap bisa memiliki harta sebagaimana yang dimiliki oleh si fulan, sehingga ia bisa menginfakkan hartanya tersebut di jalan Allah sebagaimana yang dilakukan oleh si fulan).
Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, jika perkataan ‘seandainya’ tersebut mengandung keluh kesah, kesedihan, ketidak-relaan terhadap takdir Allah ta’ala, atau mengandung harapan untuk sebuah kejelekan, maka perkataan ‘seandainya’ dalam hal ini adalah tercela.
Kemudian jika perkataan ‘seandainya’ tersebut mengandung cita-cita dan harapan untuk kebaikan, karena menginginkan mendapat petunjuk, ataupun karena menginginkan mendapat suatu ilmu yang bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya, maka kata ‘seandainya’ dalam hal ini adalah sesuatu yang terpuji dan diperbolehkan.
Penutup
Oleh karena itu wahai saudaraku, maka sepantasnya bagi kita untuk senantiasa menjaga lisan-lisan kita dari perkataan-perkataan yang tidak bemanfaat. Terlebih lagi jika kata-kata tersebut adalah kata-kata yang dapat mengurangi kesempurnaan iman dan tauhid.
Disamping itu, kita juga harus senantiasa bersabar atas setiap musibah yang menimpa kita. Karena sudah menjadi sebuah kepastian bahwa apapun yang telah Allah ta’alatakdirkan untuk makhluk-makhluk-Nya, maka itulah yang terbaik untuk mereka. Dan tidak diragukan lagi bahwasanya setiap keputusan Allah ta’ala untuk hamba-hamba-Nya adalah menunjukkan akan keadilan Allah ta’ala.
Mudah-mudahan yang sedikit ini bisa menjadi sebuah nasihat buat diri saya sendiri maupun orang-orang yang berkenan untuk membacanya. Semoga kita selalu menjadi orang yang senantiasa berhati-hati dalam semua ucapan dan perbuatan.
Wallaahul-muwaffiq ilaa sabiilir-rosyaad.
Alhamdulillahil-ladzii bini’matihi tatimmush-shaalihaat
***
Artikel muslimah.or.id
Penulis: Ummu ‘Iffah
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits
Maraji’:
  • Al-Irsyaad ilaa shahiihil-I’tiqaad, Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan,Daarush-Shohaabah.
  • Al-Qaulul Mufiid ‘alaa kitaabiit-tauhiid, Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimiin,Daaruts-Tsarooya lin-nasyr
  • Al-Qaulus-Sadiid fii Maqaashidit-Tauhiid, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy,Daarul Aqiidah.
  • Fathul majiid syarh kitaabit-tauhiid, Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Aalu Syaikh,Daarul kutub Al-‘Ilmiyyah.
  • Mulakhkhosh fii Syarh kitaabit-tauhiid, Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan,Daarul-‘Aashimah (Maktabah Syamiilah).
  • Mutiara Faidah Kitab Tauhiid, Abu Isa Abdullah bin Salam, Pustaka Muslim.

Mungkinkah Orang Sunda menjadi Presiden?

presiden riDilarang Melarang - Konon menurut ramalan dari Joyoboyo (raja Kediri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157), bakal pemimpin negeri ini adalah memiliki initial nama “notonegoro” atau “no-to-no-go-ro”, bila diartikan secara sederhana menunjukan bahwa yang bakal menjadi presiden itu “harus” orang Jawa.

Hal ini nampaknya tidak berlebihan bila ternyata yang jadi presiden sebagai pemenang pemilu adalah: “soekarno”, “soeharto” dan “yudoyono”, adapun habibie, gusdur dan megawati, adalah presiden yang dipilih akibat dari peralihan saja.

Namun demikian hampir dari semuanya mereka adalah berasal dari orang Jawa, hal ini tentunya tidak berlebihan karena menurut data statistik pun jumlah penduduk Indonesia itu hampir separuhnya lebih adalah suku Jawa, sehingga peluang / probabilitasnya sangat besar dibandingkan yg lainnya, apalagi sekarang dipilih secara langsung oleh rakyat.

Di balik itu semua, bila melihat kembali ke Sejarah Bangsa nampaknya hampir seluruh Pemimpin Bangsa ini cara kepemimpinannya merujuk kepada falsafah dari Gadjah Mada, yang terkenal dengan “Sumpah Palapa” nya (tahun 1331), dan gaya kepemimpinannya pun nampaknya tidak lebihnya adalah merupakan ‘reinkarnasi’ dari cara kepemimpinan seorang Patih Gadjah Mada.

Bila dilihat secara garis besar, kaidah kepemimpinan Gadjah Mada dapat diklasifikasikan menjadi tiga dimensi, yaitu:Spiritual, Moral, dan Manajerial.

Dimensi Spiritual terdiri dari tiga prinsip, yaitu:

1. 1. Wijaya: tenang, sabar, bijaksana;
2. 2. Masihi Samasta Bhuwana: mencintai alam semesta; dan
3. 3. Prasaja: hidup sederhana.

Dimensi Moral terdiri dari enam prinsip, yaitu:

1. 4. Mantriwira: berani membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan;
2. 5. SarJawa Upasama: rendah hati;
3. 6. Tan Satrsna: tidak pilih kasih;
4. 7. Sumantri: tegas, jujur, bersih, berwibawa;
5. 8. Sih Samasta Bhuwana: dicintai segenap lapisan masyarakat dan mencintai rakyat;
6. 9. Nagara Gineng Pratijna: mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi, golongan, dan keluarga.

Dimensi Manajerial terdiri dari sembilan prinsip, yaitu:

1. 10. Natangguan: Mendapat dan menjaga kepercayaan dari masyarakat;
2. 11. Satya Bhakti Prabhu: loyal dan setia kepada nusa dan bangsa;
3. 12. Wagmiwag: pandai bicara dengan sopan;
4. 13. Wicaksaneng Naya: pandai diplomasi, strategi, dan siasat;
5. 14. Dhirotsaha: rajin dan tekun bekerja dan mengabdi untuk kepentingan umum;
6. 15. Dibyacitta: lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain;
7. 16. Nayaken Musuh: menguasai musuh dari dalam dan dari luar;
8. 17. Ambek Paramartha: pandai menentukan prioritas yang penting;
9. 18. Waspada Purwartha: selalu waspada dan introspeksi untuk melakukan perbaikan.

Prinsip-prinsip tersebut dijadikan sebagai sumber dari filsafat dan way of life yang diyakininya, dan mencerminkan spiritualitas Jawa yang bersifat holistic spirituality, yang memberikan inspirasi pandangan hidup pada Gadjah Mada.

Kenapa Orang Sunda Tidak Mau dibilang Jawa ?

Ketika saya bepergian keluar negara dari Indonesia, atau bahkan pergi keluar pulau Jawa seperti ke Bali, Sumatera atau Kalimantan, orang akan memanggil saya sebagai orang Jawa. Itu dikarenakan memiliki KTP Bandung yang memang terletak di Pulau Jawa,

Padahal, bagi masyarakat di pulau Jawa bagian Barat atau lebih dikenal dengan propinsi Jawa Barat, mereka tidak bisa disebut sebagai ‘orang Jawa’ atau berasal dari ‘suku Jawa’. Penduduk di provinsi ini lebih dikenal dengan sebutan ‘orang Sunda’ atau ‘suku Sunda’, sementara daerahnya sering terkenal dengan sebutan ‘Tatar Sunda’, PaSundan, atau ‘Bumi Parahyangan’ dengan Bandung sebagai pusatnya.

Kultur Budaya

Suku Sunda atau masyarakat Sunda merupakan mayoritas penduduk Jawa Barat. Dalam catatan sejarah, pada tahun 1851 suku Sunda sudah merupakan penduduk terbesar di Jawa Barat yang berjumlah 786.000 jiwa. Pada tahun 2008, suku Sunda diperkirakan berjumlah lebih kurang 34 juta jiwa.

Secara fisik sulit dibedakan antara orang Sunda dan orang Jawa yang sama-sama mendiami Pulau Jawa. Perbedaan yang nampak sebagai penduduk Pulau Jawa, akan tampak jelas ditinjau dari segi kebudayaannya, termasuk bahasa, jenis makanan yang disukai dan kesenian yang dimiliki.

Berbeda dengan ‘suku Jawa’ yang mayoritas hidup di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur, suku Sunda tidak menggunakan bahasa Jawa tetapi bahasa ‘Sunda’.

Bahasa Jawa dan bahasa Sunda jelas memiliki perbedaan yang signifikan. Selain memang mempunyai perbedaan ejaan, pengucapan dan arti, bahasa Jawa lebih dominant dengan penggunaan vocal ‘O’ diakhir sebuah kata baik itu dalam pemberian nama orang atau nama tempat, seperti Sukarno, Suharto, Yudhoyono, Purwokerto, Solo dan Ponorogo. Sementara bahasa Sunda lebih dominant berakhiran huruf ‘A’ seperti Nana Sutresna, Wiranata, Iskandar Dinata, Purwakarta dan Majalaya.

Bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, suku Sunda dikenal sebagai masyarakat yang senang memakan sayuran atau daun-daunan sebagai ‘lalaban’ (sayuran yang dimakan mentah-mentah dengan sambal). Bagi orang Sunda, dedaunan dan sambal merupakan salah satu menu utama setiap makan selain tentunya lauk pauk lain seperti ikan dan daging.

Selain kebudayaan dan makanan, salah satu karakteristik orang Sunda adalah terkenal dengan karakternya yang lembut, tidak ngotot dan tidak keras. Mereka bersikap baik terhadap kaum pendatang atau dalam bahasa Sunda ‘someaah hade ka semah’.

Karena sifat inilah tak heran kalau penetrasi agama Islam ke daerah Sunda ketika pertama kali Islam datang, sangat mudah diterima oleh suku ini. Sebagaimana mayoritas penduduk Indonesia, Islam merupakan agama mayoritas orang Sunda. Yang membedakannya, kelekatan (attachment) orang Sunda terhadap Islam dipandang lebih kuat dibanding dengan orang Jawa pada umumnya. Meskipun tentunya tidak sekuat orang Madura dan Bugis di Makassar.

Karena karakternya yang lembut banyak orang berasumsi bahwa orang Sunda ‘kurang fight’, kurang berambisi dalam menggapai jabatan. Mereka mempunyai sifat ‘mengalah’ daripada harus bersaing dalam memperebutkan suatu jabatan. Tidak heran kalau dalam sejarah Indonesia, kurang sekali tokoh-tokoh Sunda yang menjadi pemimpin di tingkat Nasional dibandingkan dengan Orang Jawa.

Contohnya, tidak ada satupun presiden Indonesia yang berasal dari suku Sunda, bahkan dari sembilan orang wakil presiden yang pernah menjabat sejak zaman Presiden pertama Soekarno sampai sekarang Presiden Yudhoyono, hanya seorang yang berasal dari suku Sunda yaitu Umar Wirahadikusuma yang pernah menjabat sebagai wakil presiden di zaman Presiden Soeharto.

Bila dilihat dari unsur sosial dan budaya seperti tersebut di atas, orang dari tatar Sunda memang tidak sama dengan Jawa, sehingga dengan demikian walaupun tinggal di satu pulau, tetap saja tidak bisa disamakan. Namun nampaknya faktor alam yang “lohjinawi” itulah yang membentuk karakter dan kepribadian seperti itu, sehingga membentuk kultur budaya dan perilaku yang membedakan dengan orang Jawa.


Perang Bubat

gajah madaAdalah perang yang kemungkinan pernah terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit, Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gadjah Mada. Persitiwa ini melibatkan Mahapatih Gadjah Mada dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda diPesanggrahan Bubat pada abad ke-14 di sekitar tahun 1360 M.

Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit; yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara.

Namun catatan sejarah Pajajaran yang ditulis Saleh Danasasmita dan Naskah Perang Bubat yang ditulis Yoseph Iskandar menyebutkan bahwa niat pernikahan itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda. Raden Wijaya yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit, dianggap keturunan Sunda dari Dyah Lembu Tal dan suaminya yaitu Rakeyan Jayadarma, raja kerajaan Sunda. Hal ini juga tercatat dalam Pustaka Rajyatajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3. Dalam Babad Tanah Jawi, Raden Wijaya disebut pula dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran.

Hayam Wuruk memutuskan untuk memperistri Dyah Pitaloka. Atas restu dari keluarga kerajaan, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamarnya. Upacara pernikahan dilangsungkan di Majapahit. Pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri sebenarnya keberatan, terutama Mangkubuminya yaitu Hyang Bunisora Suradipati. Ini karena menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat itu, tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. Selain itu ada dugaan bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik Majapahit yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya.

Linggabuana memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit, karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua negara tersebut. Berangkatlah Linggabuana bersama rombongan Sunda ke Majapahit, dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.

Melihat Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit, maka timbul niat lain dari Mahapatih Gadjah Mada yaitu untuk menguasai Kerajaan Sunda, sebab untuk memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya tersebut, maka dari seluruh kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan hanya kerajaan Sundalah yang belum dikuasai Majapahit. Dengan maksud tersebut dibuatlah alasan oleh Gadjah Mada yang menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit, sesuai dengan Sumpah Palapa yang pernah ia ucapkan pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta. Ia mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan mengakui superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri menurut Kidung Sundayana disebutkan bimbang atas permasalah tersebut, karena Gadjah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.

Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gadjah Mada. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gadjah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya. Namun Gadjah Mada tetap dalam posisi semula.

Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gadjah Mada sudah mengerahkan pasukannya (Bhayangkara) ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gadjah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri dan pejabat kerajaan Sunda, serta putri Dyah Pitaloka.

Hayam Wuruk menyesalkan tindakan ini dan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali – yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka – untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi pejabat sementara raja Negeri Sunda, serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya.

Akibat peristiwa Bubat ini, dikatakan dalam catatan tersebut bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gadjah Mada menjadi renggang. Gadjah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai wafatnya (1364). Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan esti larangan ti kaluaran, yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak timur negeri Sunda (Majapahit).

Dengan demikian nampaknya kejadian seperti tersebut di atas telah membuat orang dari tatar Sunda, tidak menerima kebijakan politik dari Gadjah Mada tersebut, walau tujuannya untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan di Nusantara itu, namun caranya seperti itu ‘tidak elegant’ dan telah melukai harkat martabat dan harga diri orang Sunda, sehingga sampai kini di wilayah tatar Sunda itu tidak ada nama Jalan Gadjah Mada atau Hayam Wuruk.

Nah…., bila kembali kepada pertanyaan di atas:”Kenapa Orang Dari Tatar Sunda Tidak Ada yang Jadi Presiden?“ nampaknya memang kalau mau jadi Pemimpin Negeri di negeri ini, harus berani seperti Gadjah Mada tersebut, sehingga wajar saja saat ini Partai-Partai / Golongan Politik itu tidak lebihnya seperti “reinkarnasi” dari jaman kerajaan Majapahit,kawan dapat menjadi lawan demi kekuasaaan !

Namun bukan berarti orang Sunda itu tidak bisa jadi pemimpin, akan tetapi kebanyakan dari mereka tidak bisa menerima norma-norma bila harus seperti Gadjah Mada itu yang cenderung ‘licik’ dan ‘menghalalkan segala cara’ demi kekuasan. Hal itulah rupanya yang membuat orang dari tatar Sunda tidak tertarik untuk menjadi pemimpin di negeri ini karena tidak sesuai dengan tabiat dan norma-norma kehidupannya.

Adapun selama ini orang dari tatar Sunda itu cocoknya hanya jadi pemimpin untuk di daerahnya sendiri, walau sebenarnya menurut sejarah tersebut di atas, kerajaan Sunda Padjadjaran adalah Kerajaan Besar yang memliki ‘Komara’ dan‘Wibawa’ dan satu-satunya kerajaan yang tidak terkalahkan oleh Majapahit !

Akan tetapi rupanya hal itu pada saat ini sudah tidak menjadi keharusan lagi, karena sekarang Partai Politiklah yang menentukan untuk menjadi Pemimpin. Hal ini nampaknya pengaruh unsur politik lebih dominan dalam kehidupan masyarakatnya sehingga norma-norma Budaya Sunda itu terkalahkan oleh kepentingan politik dan kekuasaan.

Namun bagaimanapun seharusnya “Bangsa yang baik itu adalah bangsa yang menghargai Sejarah dan Budayanya”, sehingga dengan demikian nilai-nilai luhur kultur budaya tersebut tidak hilang ditelan jaman, dan tentunya hal itu tidak bisa hanya dijadikan slogan “nyandang kahayang” namun harus dapat diwujudkannya menjadi kenyataan, sehingga“dina budaya urang napak, tina budaya urang ngapak” dapat tercapai !

Semoga hal ini dapat menjadi pemacu semangat generasi muda selanjutnya untuk “BANGKIT” kembali dan tidak terbuai oleh jebakan politik yang cenderung menghalalkan segala cara. SEMOGA…!

Ditulis oleh Urang Wado, (Ir.H.Surahman,M.Tech,M.Eng,MBA)

Nabi Muhammad dan Injil serta bukti nama Muhammad dalam Injil




Bahagian 1

Bahagian 2


Dalam usia dua belas tahun, bapa saudara Baginda - Abu Thalib, membawa bersama-samanya ke Negeri Syam (Syria). Ketika mereka sampai di suatu tempat yang dikenali dengan nama “Basra”, mereka telah bertemu dengan seorang paderi yang bernama Buhaira, seorang yang bijak mengenai Kitab Injil dan agama Nasrani. Beliau memerhatikan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, kemudian bertanya kepada Abu Thalib.

Katanya: “Budak ini anak tuan hambakah?”



Lantas dijawab oleh Abu Thalib: “Kenapa tidak! Ya, budak ini anakku.” Oleh kerana Abu Thalib terlalu kasih dan sayang kepada Rasulullah sejak dahulu lagi, maka beliau menyebut-nyebut Baginda sebagai anaknya.

Kemudian Buhaira menegaskan: “Bapa budak ini tidak mungkin masih hidup.”

Abu Thalib menjawab: “Sebenarnya budak ini anak saudaraku, bapanya meninggal ketika ia masih dalam perut ibunya.”

Paderi tadi menambah: “Memang benar apa yang engkau ceritakan kerana segala-galanya tercatat dalam Injil, dan di sini ingin saya memberi nasihat iaitu supaya segeralah engkau membawanya pulang. Sebab kalaulah ternampak oleh orang-orang Yahudi, mereka akan mengancam nyawanya kerana anak saudaramu ini di masa muka nanti akan membawa suatu perkara besar dan agung.”

Paderi itu juga menyatakan ada ramai orang yang dengki pada kehadiran nabi akhir zaman dan ingin membunuhnya

Maka Abu Thalib pun segeralah pulang ke Mekah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

Suatu ketima Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersama dengan kabilah perdagangan ke Syam yang pada ketika itu majikannya ialah Siti Khadijah, baginda sentiasa dipayungi awan yang menaunginya hingga mereka berhenti di sebuah peristirehatan dekat rumah seorang Rahib Nasrani.

Muhammad SAW turun dari untanya, pergi berangin-angin melepaskan lelah di bawah pohon yang teduh.
Seorang rahib keluar dari tempat pertapaannya. Ia terhairan-hairan melihat gumpalan awan menaungi kafilah dari Makkah, padahal tak pernah terjadi selama ini. Ia tahu apa erti tanda itu kerana pernah dibacanya di dalam Kitab Taurat. Rahib menyiapkan suatu perjamuan bagi kafilah itu dengan maksud untuk menyiasat siapa pemilik karamah dari kalangan mereka.

Semua anggota rombongan hadir dalam majlis perjamuan itu, kecuali Muhammad SAW seorang diri yang tinggal untuk menjaga barang-barang dan kenderaan. Ketika Rahib melihat awan itu tidak bergerak, tetap di atas kafilah, bertanyalah beliau: "Apakah di antara kalian masih ada yang tidak hadir di sini?"

Maisarah menjawab: "Hanya seorang yang tinggal untuk menjaga barang-barang."

Rahib pergi menjemput Muhammad SAW dan terus menjabat tangannya, membawanya ke majlis perjamuan. Ketika Muhammad SAW. bergerak, Rahib memperhatikan awan itu turut bergerak pula mengikuti arah ke mana Muhammad SAW berjalan. Dan di saat Muhammad SAW masuk ke ruangan perjamuan, Rahib keluar kembali menyaksikan awan itu, dan dilihatnya awan itu tetap di atas, tidak bergerak sedikit pun walaupun dihembus angin. Maka mengertilah ia siapa gerangan yang memiliki karamah dan keutamaan itu.

Rahib masuk kembali dan mendekati Muhammad SAW, bertanya: "Hai pemuda, dari negeri mana asalmu?"

"Dari Makkah".

"Dari qabilah mana?" tanya sang Rahib.

"Dari Quraisy, tuan!"

"Dari keluarga siapa?"

"Keluarga Bani Hasyim."

"Siapa namamu?"

"Namaku, Muhammad."

Serta merta ketika mendengar nama itu, Rahib itu berdiri dan terus memeluk Muhammad SAW serta menciumnya di antara kedua alisnya seraya mengucapkan:

"Laa Ilaaha Illallaah, Muhammadur Rasulullah."

Ia menatap wajah Muhammad SAW dengan perasaan takjub, seraya bertanya: "Sudikah engkau memperlihatkan tanda di badanmu agar jiwaku tenteram dan keyakinanku lebih mantap?"

"Tanda apakah yang tuan maksudkan?" tanya Muhammad SAW.

"Silakan buka bajumu supaya kulihat tanda akhir kenabian di antara kedua bahumu!"

Muhammad SAW. memperkenankannya, dimana Rahib tua itu melihat dengan jelas ciri-ciri yang dimaksudkan.

"Ya....ya....tertolong, tertolong!" seru Rahib. "Pergilah ke mana hendak pergi. Engkau terus ditolong!"

Rahib itu mengusap wajah Muhammad SAW, sambil menambahkan:

"Hai hiasan di hari kemudian, hai pemberi syafa’at di akhirat, hai peribadi yang mulia, hai pembawa nikmat, hai nabi rahmat bagi seluruh alam!"

Dengan pengakuan demikian, Rahib dari Ahlil-Kitab itu telah menjadi seorang muslim sebelum Muhammad SAW. dengan rasmi menerima wahyu kerasulan dari langit.

Beberapa hari di Syam, mereka bertembung dengan hari Yahudi, yang dimeriahkan dengan upacara besar-besaran.

Muhammad SAW, Abu Bakar dan Maisarah keluar menonton keramaian itu. Tatkala Muhammad SAW memasuki tempat upacara untuk menyaksikan cara mereka beribadat, maka tiba-tiba berjatuhanlah semua lilin-lilin menyala yang bergantungan pada tali di sekitar ruangan, yang menyebabkan paderi-paderi Yahudi gementar ketakutan.

Seorang di antara mereka bertanya:

"Alamat apakah ini?" Semuanya hairan, cemas dan ketakutan.

"Ini bererti ada orang asing yang hadir di sini," jawab pengerusi upacara.

"Kita baca dalam Taurat bahawa alamat ini akan muncul bilamana seorang lelaki bernama Muhammad SAW, Nabi akhir zaman, mendatangi hari raya agama Yahudi. Mungkinlah sekarang orang itu berada di ruangan kita ini. Carilah lelaki itu, dan kalau bertemu, segeralah tangkap!"

Abu Bakar r.a, sahabat Muhammad SAW sejak dari kecil, dan Maisarah, yang mendengar berita itu segera mendekati Muhammad SAW yang berdiri agak terpisah, dan mengajaknya keluar perlahan-lahan di tengah-tengah kesibukan orang yang berdesak-desakan keluar masuk ruangan.

Tanpa menunda waktu lagi, Maisarah segera memerintahkan kafilah berangkat pulang ke Makkah. Dengan demikian tertolonglah Muhammad SAW dari kejahatan orang-orang Yahudi.

Kisah pertemuan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dengan Buhaira semasa perjalanannya ke Negeri Syam bersama ayah saudara Baginda adalah satu-satunya hadith yang diriwayatkan oleh ramai ‘ulama’ Sirah. Hadith ini membuktikan kepada kita bahawa ahli kitab, iaitu orang Yahudi dan Nasrani, sudah pun mengetahui tentang pengutusan Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam melalui Kitab Taurah dan Injil, yang telah menceritakan satu-persatu tentang tanda-tanda dan kedatangannya.


Mengikut apa yang telah diperihalkan oleh ahli sirah, orang-orang Yahudi Madinah pernah menyebut tentang kedatangan Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam kepada puak ‘Aus dan Khazraj. Dan apabila dilahirkan sahaja mereka akan mengikuti dan beriman dengannya supaya dapat mereka berperang dan menghancurkan orang-orang ‘Aus dan Khazraj, seperti mana termusnahnya kaum ‘Ad dan Iram, kerana (pada waktu itu) Yahudi Madinah berselisih faham dan bermusuh-musuhan dengan dua puak ini.

Namun demikian, setelah datangnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, mereka enggan pula beriman denganNya. Kesemua ini diterangkan oleh Allah di dalam al-Quran yang bermaksud:

"Dan setelah datang kepada mereka Al-Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah ke atas orang-orang yang ingkar itu." (Al-Baqarah: 89)

Al-Qurtubi menceritakan bahawa Sayyidina ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada ‘Abdullah bin Salam, seorang paderi Yahudi yang telah memeluk Islam, semasa diturunkan ayat yang bermaksud:

"Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui." (Al-Baqarah: 146)

Kata Saiyyidina ‘Umar: "Tidakkah kamu mengetahui Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam itu sepertimana kamu mengetahui anak-anak sendiri?"

Jawab Abdullah; "Ya memang begitu, malah lebih daripada itu. Allah telah mengutus pembawa amanahNya dari langit untuk disampaikan kepada pembawa amanahNya di muka bumi ini. Segala sifat-sifat Rasulullah itu aku mengetahui lebih terperinci, sedangkan pengetahuan mengenai diri anak-anakku tidak aku tahu sepenuhnya."

Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang terkenal, telah memeluk Islam kerana beliau mengetahui sifat-sifat dan kedatangan Rasulullah itu terlebih dahulu, kerana semuanya tersirat dalam Injil dan diperkatakan oleh paderi-paderi.

Segala-galanya ini tidaklah menunjukkan kepada kita bahawa kesemua ahli kitab percayakan segala-galanya ini. Pada hakikatnya ia adalah sebaliknya, sebab kitab-kitab Injil yang mereka baca sekarang sudah tidak langsung menyebut tentang Nabi Muhammad dan sifat-sifatnya, kerana tokok tambah dan tukar ganti sering dilakukan ke atas kitab ini oleh pihak paderi dan gereja. Perkara ini telahpun ditegaskan di dalam Al-Qur’an Al-Karim yang bermaksud:

"Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al-Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: ‘Ini dari Allah’, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan." (Al-Baqarah: 78-79)

Paderi Yahudi memang mengetahui bahawa Nabi Muhammad saw itu adalah Rasulullah. Abdul Mutalib (datuk Nabi) pernah satu ketika bermusafir ke Syam dengan 3 orang sahabatnya. Mereka bertemu dengan paderi Yahudi di Syam. Paderi ini bercerita kepada mereka bahawa di Mekah akan lahir seorang Nabi, namanya Muhammad.

Paderi yahudi ini telah mengubah isi kitab taurat dan mengatakan bahawa ianya adalah dari Allah. Orang awam dikalangan mereka pula menerimanya bulat-bulat. Paderi-paderi bangsa Yahudi yang menemui sifat-sifat Nabi SAW tertulis dalam kitab Taurat yang berbunyi:

Matanya seperti yang selalu memakai celak, tingginya ’sedang’, rambutnya ikal, mukanya cantik."

Akan tetapi mereka menghapuskan (perkataan tersebut dari Taurat) kerana dengki dan benci serta menggantinya dengan kalimah:

"Badannya tinggi, matanya biru, rambutnya lurus."
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Paderi Yahudi biasa mendapat wang dan sanjungan rakyat bawahannya. Mereka mengharap agar Nabi yang akan diutus itu diangkat dari kalangan mereka. Ketika Nabi Muhammad SAW diutus bukan dari kalangan Yahudi, mereka takut kehilangan sumber keuntungan, kedudukan dan pengaruh. Lalu mereka mengubah sifat-sifat Muhammad yang di kitab Taurat, dan mengumumkan kepada para pengikutnya dengan berkata. "Inilah sifat Nabi yang akan keluar di akhir zaman dan tidak sama dengan sifat Muhammad ini." (Diriwayatkan oleh at-Tsa’labi dari al-Kalbi, dari Abi Shaleh yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Paderi Yahudi yang mengubah kitab Allah itu akan dimasukkan ke dalam Neraka Wail. Penulis kitab, kitab dan hasil dari jualan kitab itu semuanya dimasukkan ke dalam Neraka Wail.

"Kecelakaan besar bagi orang-orang yang menulis Kitab Taurat dengan tangan mereka (lalu mengubah Kalam Allah dengan rekaan-rekaan mereka), kemudian mereka berkata: "Ini ialah dari sisi Allah", supaya mereka dengan perbuatan itu dapat membeli keuntungan dunia yang sedikit. Maka kecelakaan besar bagi mereka disebabkan apa yang ditulis oleh tangan mereka dan kecelakaan besar bagi mereka dari apa yang mereka usahakan itu." (Al-Baqarah: 79)

=============================================================
Sedikit penerangan dari video di atas:
Di dalam buku song of solomon/kitab kidung agung(5:16),di dalam bahasa ibrani/hebrew :

"khiko mamtaqeem vekhulo MUHAMMADIM zeh dewdee,v'zeh ra'ee benot jerusalem."

maksudnya:

"Begitu manis tutur katanya,segala yg ada pdnya menawan hatiku.Demikianlah kekasihku dan sahabatku,Hai puteri2 jerusalem."

Perkataan "he is altogether lovely" yg tercatat di dalam bible sebenarnya adalah terjemahan drpd perkataan MUHAMMADIM dalam bahasa ibrani/hebrew..

'IM' dalam bahasa ibrani(bahasa yahudi),MENUNJUKKAN dua jenis kata plural...
1.plural of numbers
2.plural of respect

sama juga mcm bahasa arab...perkataan' kami' mempunyai 2 maksud...
1.plural of numbers
2.plural of respect..

kalau tak percaya pergi tanya org2 yang ahli dan pakar dalam bahasa arab.

CONTOH

perkataan ALLAH dalam hebrew adalah ELOHIM...ELOH=ALLAH,IM= plural of respect...

sama macam MUHAMMADIM..MUHAMMAD IM!

Kesilapan orang kristian ialah mereka menterjemahkan nama orang...sebab tu mereka bila dtanya nama muhammad ada x dalam kamu punya bible?mereka kata x de...pasal da dterjemahkan jd "altogether lovely"!!

CONTOH:

hafizuddin sedang minum air

hafizuddin dalam bahasa arab bermaksud menjaga agama(islam)
boleh kita terjemah jd begini?:

menjaga agama islam sdg minum air...

JESUS bangsa Yahudi dan berbicara bahasa Hebrew. Semua umat Islam tahu Nabi Muhammad bangsa Arab dan baginda bicara bahasa Arab. Apa pun yang dikatakan oleh JESUS, lebih tepat didalam Bahasa Hebrew.

Perhatikan perkataan dibawah:

מַחֲמַדִּי

Perkataan diatas adalah perkataan yang diambil dari Bahasa Hebrew dari BIBLE HEBREW. Bahasa Asli BIBLE. Ingat! JESUS bukan Arab.

Perkataan ini diambil dari Old Testament.

חִכֹּו מַֽמְתַקִּים וְכֻלֹּו מַחֲמַדִּים זֶה דֹודִי וְזֶה רֵעִי בְּנֹות יְרוּשָׁלִָֽם׃  
(Song of Solomon 5:16)

Didalam Kitab Perjanjian Lama, Nabi Sulaiman atau SOLOMON dalam BIBLE ENGLISH ini adalah terjemahan bagi ayat di atas:

His mouth [is] most sweet, Yes, he [is] altogether lovely. This [is] my beloved, And this [is] my friend, O daughters of Jerusalem! (Song of Solomon 5:16).

Kenapa מַחֲמַדִּ diterjemahkan kepada lovely didalam terjemahan English? Bukankah itu sebuah nama? Oklah… pembuktian yang Nabi Muhammad sudah diramalkan kedatangannya sebelum kelahiran Jesus ada didalam BIBLE.

Saya tidak mahu menjadi blogger melalak tanpa bukti. Mari… ikut saya cari maksud perkataan diatas.

Bukti menunjukkan perkataan ini adalah merujuk kepada Muhammad:

מַחֲמַדִּי (copy paste perkataan ini untuk Google Translator)

boleh dibuktikan melalui beberapa enjin terjemah popular. Antara yang mudah ialah:

Terjemahan perkataan מַחֲמַדִּי melalui Google Translator

מַחֲמַדִּ (copy paste perkataan ini untuk WordLingo dan FreeTranslation)

Terjemahan perkataan מַחֲמַדִּ di dalam WordLingo Translator dan FreeTranslation:

http://www.worldlingo.com/en/products_services/worldlingo_translator.html

http://www.freetranslation.com/

Semoga Allah s.w.t. menjadikan orang Islam sebagai asbab hidayat seluruh manusia seluruh alam.

Sumber Rujukan:
http://www.darulnuman.com/mkisah/kisah017.html
http://sirah.blogsome.com/2005/09/25/perjalanan-yang-pertama-ke-negeri-syam-dan-usaha-mencari-rezeki-halal/#more-33
http://sinarpermata99.blogspot.com/2009/06/nama-nabi-muhammad-di-dalam-bible.html
http://www.detikdaily.net/v5//modules.php?name=Forums&file=viewtopic&t=2705&postdays=0&postorder=asc&start=0

Perbahasan Lebih lanjut:
http://mindaahad.wordpress.com/2010/03/09/kerasulan-muhammad-dalam-bible-bukti-12-3/
http://mindaahad.wordpress.com/2010/03/11/kerasulan-muhammad-dalam-bible-bukti-45-6/
http://mindaahad.wordpress.com/2010/03/14/kerasulan-muhammad-dalam-bible-bukti-78-9-akhir/

copas dari 
http://pengembaralara.blogspot.com/2010/04/bukti-nama-muhammad-di-dalam-injil.html

Album Foto di Tempat Sampah Gegerkan Belanda


Jakarta – KabarNet: Pada awal bulan Juli ini di negeri Belanda sedang hangat hangatnya membicarakan sejarah Aksi Polisionil Belanda di Indonesia antara 1947-1949. Semua berawal dari sebuah album foto yang ditemukan secara tidak sengaja di sebuah tempat sampah di Kota Enschede dan dimuat pertama kali oleh koran VOLKSKRANT, salah satu koran terbesar di Belanda.
Di Belanda sendiri, sejarah tentang aksi polisionil tidak diajarkan secara mendetil dalam kurikulum mereka, seolah seperti bagian yang ingin dipetieskan, berikut adalah artikel koran yang pertama dimuat tanggal 10 Juli 2012.
Berikut adalah terjemahannya :

Foto foto pertama dari eksekusi pasukan Belanda di Indonesia

Lidy Nicolasen – 10 Juli 2012 , 07:35 Untuk pertamakali dalam sejarah, foto dari sebuah eksekusi ditemukan, kemungkinan foto foto dari eksekusi yang dilakukan oleh tentara belanda selama masa aksi polisionil di negara jajahan Hindia Belanda. Foto foto ini ditemukan dalam album foto pribadi seorang tentara yang dikirim pemerintah belanda ke Indonesia dalam sebuah misi militer.
Dalam foto foto ini dapat dilihat eksekusi dari tiga pria indonesia. Mereka berdiri dengan punggung mereka menghadap kearah regu tembak yang berdiri pada sisi lain sebuah parit, foto menunjukkan momen ketika mereka ditembak. Parit dipenuhi dengan mayat mayat nrang yang dieksekusi, terlihat dari foto kedua. Pada sisi sebelah kiri anda bisa melihat dua personil militer belanda yang bisa dipastikan dari seragam mereka.
Belum pernah ada sebelumnya
Tim ahli dari Institue Dokumentasi Perang ( Ned Indie Oorlog Documentation) dan Institut Sejarah Militer Belanda ( NIMH ) mengatakan bahwa mereka belum pernah melihat foto foto ini sebelumnya “ ini bukan foto sembarangan dan tentu saja tidak benar jika setiap veteran membawa foto semacam ini pulang” seorang pegawai NIMH mengatakan demikian. Demikian juga bagi NIOD foto foto ini tidak dikenali sebelumnya , tegas Rene Kok: “kami memiliki banyak album disini, sebenarnya kami mengharapkan gambar seperti ini muncul dan momen ini ternyata adalah saat ini, gambar ini tidak pernah saya lihat sebelumnya”.
Para sejarawan tidak meragukan keotentikan foto , namun tentang lokasi tepatnya dan kondisi eksekusi belum diketahui, kemungkinan riset lebih jauh akan dapat memberikan lebih banyak detail.
Pemilik foto adalah seorang prajurit dari Enschede. Dia sudah meninggal. Dia dikirim sebagai tentara wajib militer pada 1947 tepat sebelum agresi pertama dan kembali pada 1950 setelah Belanda menyetujui kemerdekaan Indonesia. Dia bertugas pada batalion artileri. Sejarah tentang batalionnya tidak pernah menuliskan tentang eksekusi. Namun tetap saja memungkinkan bagi pasukan artileri untuk mengawal pasukan infantri atau pasukan khusus yang melakukan eksekusi.
Eksekusi yang dikenal adalah Rawagede di Jawa Barat dan di Sulawesi Selatan. Tahun lalu keluarga korban dari pembantaian Rawagede telah mendapatkan uang kompensasi dari pemerintah Belanda. Pemerintah belum merespon mengenai tuntutan hukum mengenai pembantaian di Sulawesi Selatan. Tidak diketahui jumlah korban orang Indonesia secara pasti dari kedua aksi tersebut.
Prajurit pemilik foto ini tidak pernah membicarakan keberadaan dari foto ini. Dan mungkin saja tak seorangpun akan menyadari album fotonya jika mereka tidak menemukannya di tempat sampah di Enschede. Tidak diketahui siapa yang telah membuangnya. Pemilik album ini tidak memiliki anak dan hidup sendirian dalam beberapa tahun terakhir.
TEMPAT SAMPAH
Seorang pegawai pemerintah kota Enschede menemukan album tua di sebuah tempat sampah, pegawai ini memang mengoleksi foto foto untuk mengilustrasikan kehidupan dari warga kotanya sendiri. Album ini pasti akan tetap ada ditempat sampah seandainya dia tidak menyadari foto dari tawanan, ketika itu dia melihat lebih dekat ke album foto dan baru menyadari bahwa dia menemukan album foto dari sebuah eksekusi.
Saat ini tiga institut penelitian sejarah meminta pemerintah untuk melakukan investigasi ulang dari aksi polisionil antara 1949 hingga 1950 untuk lebih mengungkapkan fakta tentang perang di Indonesia. Pemerintah belum memberikan jawaban ============================= publik Belanda pun mulai membicarakan berita ini baik yang pro maupun yang kontra, namun di negara kita sama sekali tidak mengetahui berita ini, tak ada satupun media di Indonesia yang mengangkat masalah ini dan inipun menguatkan opini publik Belanda ketika pertama kali foto ini ditemukan dan dimuat ,dimana mereka mengatakan “Untuk apa kita meributkan kejadian ini? orang Indonesia sendiri saja tidak peduli dengan kejadian ini dan sejarah mereka”.
Benarkah generasi Indonesia saat ini adalah generasi yang memang tidak peduli dengan sejarah bangsanya? Benarkah opini mereka? Layakkah bagian dari kisah perjuangan dan pengorbanan para pendahulu kita untuk dihapuskan, dilupakan dan seperti kisah ini……dibuang di tempat sampah?
Tampak dalam foto mereka yang tanpa seragam tempur maupun persenjataan, bisa jadi mereka adalah warga sipil, namun bagi warga sipil sekalipun membutuhkan nyali yang besar bahkan hanya untuk menutup mulut tentang jumlah kekuatan maupun keberadaan pejuang RI, hingga bagaimana mereka melihat kawan mereka bergelempangan satu persatu diterjang peluru dan tetap tegar bersikap tidak kooperatif..
Tampak dalam foto tiga orang yang berdiri dengan ceceran darah didekatnya yang menunjukkan telah terjadi eksekusi sebelumnya.
Jika kawan kawan memiliki kepedulian terhadap kisah sejarah ini mohon bantulah untuk share artikel ini, agar bangsa kita tahu apa yang sedang terjadi di Belanda dan untuk mematahkan anggapan bahwa bangsa Indonesia tidak peduli dengan sejarahnya, saya akan terus menulis menerjemahkan koran-koran yang terbit di Belanda berkaitan dengan masalah penemuan foto ini.

Profil Jacobus, Prajurit Pemilik Album Foto

Profil Prajurit Jacobus, Album Foto yang Ditemukan di Tempat Sampah
Dalam artikel di atas diulas secara lengkap siapa prajurit pemilik album foto yang ditemukan di tempat sampah dan hangat menjadi pembicaraan di negeri Belanda, berikut adalah artikel dari koran Volskrant masih tanggal yang sama :
Sebuah foto dari barisan mayat, hanya sebuah jepretan
Album foto dari Jacobus R, pasukan artileri lapangan dari Enschede, menunjukkan gambaran yang mengerikan dari pembunuhan oleh Belanda pada 1947,selama masa agresi militer pertama di Indonesia. Tampak sperti sebuah jepretan foto dari kehidupan seorang prajurit.
Prajurit Jacobus R yang membanggakan, pria modern dari Enschede, dengan jaket, dasi , rambut mengkilap dan kumis seperti Clark Gable. Tepat sesudah perang dunia kedua pada 1947 dia dikirim wajib militer ke Indoneria. Dia ditugaskan di Barak Angkatan Darat Kerajaan di Ede dan bergabung dengan resimen artileri lapangan yang sudah diperbaharui. RVA adalah singkatannya.
Mulai saat ini nama RVA dituliskan dibelakang nama keluarganya
Sebagaimana kawan kawan seusianya juga bergabung dalam wajib militer. Di Ede mereka dilatih bagaimana bertempur dalam perang di timur jauh ( indonesia ) . Mereka juga diberitahu tentang pecahnya revolusi di negeri hindia belanda dan dibutuhkan sebanyak mungkin pasukan untuk mengembalikan kekuasaan Belanda. Karena pasukan KNIL saat itu tidak dalam kondisi yang baik sejak jatuh ke tangan Jepang. Di Belanda, ribuan sukarelawan mendaftarkan diri, sejak musim semi 1947, wajib militer juga digabungkan dalam Angkatan Darat, pemerintah mengatakan tentang operasi polisionil yang bertujuan untuk membebaskan penduduk Indonesia dari para pemberontak, namun kenyataannya mereka berakhir dalam perang gerilya yang mengerikan.
Jacobus adalah anak seorang penata rambut. Mungkin nama panggilannya adalah Jaap atau mungkin Koos. Dia sudah meninggal ,bahkan keluarganya pun tidak mudah untuk menemukan jawabannya, mungkin saja dia benci untuk pergi ke Indonesia. Antara satu sama lain antar prajurit, mereka banyak mengeluh. Tepat sesudah perang dunia kedua berakhir, tidak banyak pemuda yang memiliki hasrat untuk bertempur, namun menolak wajib militer adalah sama artinya dengan memilih melawan negara dan dipenjara.
Beberapa dari mereka juga memandang ini sebagai sebuah kesempatan untuk pergi berpetualang, pergi dari Belanda yang pengap dan kacau balau menuju tanah yang menjanjikan : Indonesia
Pada 8 Mei 1947 Jacobus memasuki kapal pasukan MS Johan van Oldenbarnevelt. Saat menyeberangi equator, dia dan kawan-kawannya mendapatkan gelar diploma. Dalam sertifikat tersebut dapat dibaca bahwa Neptune, dewa lautan, menyatakan bahwa dia layak dan mampu untuk menaklukkan semua marabahaya di Timur Jauh, Indonesia. Nampaknya dia sangat bangga dengan hal tersebut, jika tidak tentunya dia tidak akan menaruhnya didalam album fotonya tiga tahun setelah semua ini berlalu.
SATU BULAN PERJALANAN
Perjalanan itu memakan waktu hampir satu bulan lamanya, pada 5 Juni 1947 mereka sampai di Tanjung Priok, pelabuhan di Jakarta di pulau Jawa. Setelah singgah sehari mereka dinaikkan truk militer sejauh ratusan kilometer ke sebuah tempat bernama Batujajar dekat Bandung. Rencana mereka adalah mengambil alih pasukan KNIL dan relawan, tapi karena situasi politik ( agresi militer I akan segera dilaksanakan dalam waktu satu bulan) maka aksi itu ditunda.
3-12 RVA berada dibawah komando basis militer Bandung. Aturan tertulis mereka seharusnya memiliki empat senjata api, namun pada kenyataannya mereka harus menggabunfkan beberapa persenjataan tua untuk membuat artileri primitif. Tak seorangpun tahu bagaimana mengoperasikan artileri lapangan 7,5 karena mereka dilatih untuk mengoperasikan artileri 9, hanya beberapa perwira KNIL yang melatih mereka namun tak lama kemudian 2 perwira pergi untuk mendapat pelatihan menjadi komandan anti udara.
Pada pagi hari tangal 23 Juli, dua hari setelah aksi polisionil berjalan untuk pertama kalinya melakukan latihan dengan amunisi sungguhan. Pada hari yang sama juga mereka mendapatkan perintah untuk memindahkan persenjataan artileri ke Cilampeni,sebelah selatan bandung pada malam harinya.
Dua hari kemudian mereka terperangkap ditengah pertempuran ketika Soreang dikuasai pejuang Indonesia dan mereka harus mensupport pasukan infantri dengan tembakan ke desa desa dan tembakan kearah bunker bunker lawan. “Sangat Efektif“, itulah yang tertulis dalam catatan sejarah batalion yang menulis laporan menyeluruh tentang operasi Batalion 3-12 RVA, dokumen ini sekian lama berstatus dokumen sangat rahasia,namun saat ini siapapun dapat membuka arsip ini, tersimpan di Arsip Nasional Den Haag. Tidak tertulis detil seberapa “efektif”nya operasi ini berjalan.
Pada hari sabtu mereka kembali ke markas Batujajar dan sehari kemudian mereka diserang oleh 200 tentara Indonesia. Pertempuran berlangsung selama satu setengah jam. Seorang prajurit KNIL terluka. Mata mata mengatakan bahwa musuh menderita kerugian setidaknya 30 tewas dan 15 korban luka. Pada hari yang sama juga, 3-12 RVA mendapat bantuan seorang Kapten KNIL yang berpengalaman dibidang artileri.
Mereka bergerak lebih jauh ke selatan untuk mendukung aksi okupasi dari angkatan darat. Aksi Polisionil pertama berakhir pada awal Agustus 1947. Bulan September adalah bulan yang tenang,kecuali datangnya masalah infeksi penyakit kulit. Prajurit yang tidak istirahat di tempat tidur harus berlatih menembak.
Pada November 1947 akhirnya mereka siap untuk serah terima kekuasaan Cilimus dari pasukan KNIL dan sukarelawannya (A III Field). Pada akhir Desember salah satu jeep mereka terkena ranjau dan dua orang tewas dengan satu orang terluka parah. Mereka harus melakukan banyak kegiatan patroli, namun ini seharusnya bukanlah tugas dari pasukan artileri dan lagi ada banyak orang yang menderita penyakit.
Album foto ini tidak menceritakan apakah Jacobus juga menderita sakit juga. Dia tidak memotret kawan kawannya yang sedang sakit atau terluka. Sangat bisa dipastikan bahwa Jacobus menukar kameranya dengan kawan-kawannya karena dia sendiri nampak dalam abum fotonya dan kemungkinan juga bukan hanya dia yang membawa kamera. Sayangnya dia tidak menuliskan keterangan foto di albumnya sehingga informasi mengenai tempat dan waktu tidak ada.
Kadang ada beberapa foto yang sesuai dengan sejarah resmi. Seperti contoh evakuasi dari pasukan TNI dimana pasukan TNI dengan topi dan peci berwarna hitam. Dengan truk chevrolet milik militer ( cat dan krom mengkilap ) mereka dipindahkan ke garis demarkasi seperti yang sudah disepakati pasca aksi agresi militer I. Jacobus dan kawan kawannya menemani konvoi pemindahan sambil mengambil beberapa foto dalam perjalanannya.
Penghabisan
Berdasarkan catatan sejarah batalion,mereka mulai menyerang kelompok bersenjata yang tersisa yang mereka maksudkan disini adalah kelompok Hisbullah dan Sabilillah, kelompok muslim yang menolak hasil perundingan dan memilih untuk tetap bertempur dengan Belanda. Pasukan Belanda menghabisi mereka dengan cepat dan mudah sedangkan pemuda Indonesia lain tidak melakukan tindakan apapun. (karena terikat perjanjian damai.pen)
Mungkin saja kelompok muslim ini yang menjadi korban penembakan dalam foto, mereka tidak berseragam dan tidak berambut panjang seperti para pejuang kemerdekaan yang fanatik pada umumnya kala itu. Namun bisa juga mereka ini gerombolan pengganggu keamanan yang ditemukan di lingkungan area tersebut.
Sepertinya bukanlah Jacobus pelaku langsung eksekusi , hal macam itu bukanlah tugas seorang prajurit artileri, namun adalah tugas dari pasukan khusus. Pasukan khusus harus melumpuhkan kekuatan musuh dan mengembalikan keadaan kembali aman, jadi kemungkinan pasukan inilah yang berpatroli semacam ini. J.A Moor seorang ahli mengenai Indonesia menyatakan bahwa taktik yang digunakan pasukan khusus dalam aksi polisionil (perang westerling) adalah keras dan teliti. Eksekusi dan penghabisan dari tawanan adalah hal yang biasa. Tidak pernah ada estimasi data pasti jumlah korban dikarenakan laporan sudah hilang atau mungkin bahkan sengaja tidak dituliskan. Aturan resmi seharusnya tawanan dipindahkan ke tempat khusus untuk interogasi, namun taktik dari pasukan khusus adalah adalah pendadakan dan menghabisi lawan ( surprise and eliminate ) dan mereka ini tidak terbiasa membawa tawanan perang.
Saksi.
Jadi Jacobus menyaksikan pembantaian ini. Dia mengambil gambar dan tampaknya tak seorangpun berusaha mencegah dia memotret. Bahkan sesudahnya pun tak ada yang meminta roll film nya. Hingga kemudian hari dia menyimpannya dalam album foto pribadinya.
Foto foto ini diperkirakan dibuat pada awal 1948. Ada banyak sekali pertempuran di Jawa Barat sekalipun aksi polisionil kedua belum dimulai. Batalion 3-12 RVA menuliskan dalam laporannya : “tembakan dimana mana” , seperti yang telah mereka sebut tembakan ke desa desa, lapangan udara, tambang tembaga.
Dalam “laporan tembakan” juga dituliskan rinci hingga berapa jumlah granat yang mereka gunakan, data kematian juga dituliskan, namun 3-12-RVA tidak pernah menuliskan apapun tentang eksekusi.
Ada kekhawatiran lain juga yang membutuhkan perhatian mereka. Pada akhir Januari 1948 mereka menemukan 10 buah Radio Amerika. Jacobus memotretnya. Laporan menuliskan : “setelah dipelajari beberapa staff , radio dapat difungsikan dengan cukup baik, baik digunakan di pos permanen sebagai pengintai di garis depan dan juga mudah digunakan untuk berpindah pindah karena mudah untuk diangkut.
Namun mereka punya masalah yang lebih besar dengan kendaraan “bersyukur atas kemampuan dan bakat improvisasi dari para mekanik,kendaraan dapat berjalan dengan layak” begitu tulis Commander A.Lammers. Dia juga menuliskan bahwa moral prajuritnya terjaga dengan baik. Juga laporan pada pertengahan 1948, dia mengeluhkan mengenai perlengkapan dan komunikasi telepon namun kekuatan mereka masih utuh dengan 11 perwira, 16 sersan dan 186 prajurit. Hanya saja jumlah tentara yang sakit bertambah.
Satuan ini terpisah menjadi dua kelompok, kemungkinan Jacobus bergerak lebih ke timur yaitu ke Tegal. Melewati Pemalang,mereka menuju Belik dimana mereka tergabung dalam kelompok tempur “Bernardi”. Pada 19 Desember 1948 aksi polisionil kedua (operasi gagak) dimulai, mereka membantu pasukan infantri untuk mengecek desa desa dan memberikan support pada batalion zeni.
Ternyata pertempuran sama sekali belum terhenti bahkan saat aksi polisionil kedua ini berakhir pada Januari 1949. Kenyataannya di lapangan perang gerilya terus berlanjut hingga gencatan senjata pada Agustus 1949, hingga Desember 1949 Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Sejak saat itu pula Jacobus dan kawan kawannya ingin untuk kembali pulang. Jacobus juga memotret foto pasukannya yang sedang mengundurkan diri. Pada Maret 1950 resimen dari prajurit Jacobus dikembalikan pulang ke Belanda oleh Kapal Angkut Pasukan Amerika “Fair Sea”. Sesampainya di Belanda, 3-12 RVA dihapuskan.
Sesampainya dirumah dia menempatkan seluruh fotonya dalam sebuah album foto, jepretan dari rekan-rekannya sesama prajurit, jeep, peralatan radio, bangunan, foto wanita Indonesia yang mencuci di sungai, sebuah desa atau parade kecil dari anak anak sekolah. Dia juga menyelipkan sertifikat Diploma yang dia dapat, mata uang Indonesia, surat izin penggunaan senjata, kartu tahun baru dari 3-12-RVA dan sertifikat dari insignia yang dia dapatkan dari Menteri Perang ( Minister of War ). Dan juga tersimpan foto pacarnya, orang tuanya, anjingnya dibawah pengering di sebuah salon dan foto rekreasi ke Valkenburg dan Pisa. Ringkasan kehidupan pada umumnya setelah 3 tahun peperangan.
Diterjemahkan dari koran Volkskrant oleh Ady Erlianto Setyawan.[KbrNet/RoodeBrugsoerabaia]