Ki Sunda, siapa dikau dan bagaimana kabarmu?

Oleh H. RACHMAT M.A.S.
TULISAN Mira R.G. Wiranatakusumah, Mustahil Ki Sunda Akan Punah (Pikiran Rakyat, 25 April 2005) dan juga tulisan Dhipa Galuh Purba, Ki Sunda Justru Telah Punah Lebih Awal (Pikiran Rakyat, 30 April 2005) menyenangkan hati saya. Dengan gaya dan sudut pandang yang berbeda, keduanya menunjukkan kepeduliannya kepada Ki Sunda. Karena ada perbedaan itulah mereka berbeda pula dalam berkesimpulan.
Mira berpendapat, Ki Sunda sedang berada di ambang kelahiran baru sedang Dhipa mengatakan justru sudah punah. Perbedaan sudut pandang itu pasti berasal dari perbedaan perasaan, pemahaman tentang Ki Sunda serta peranan masing-masing di dalamnya. Bagaimanapun, kesamaan kepeduliannya itulah yang menyenangkan dan selayaknya membesarkan harapan urang Sunda.
Sebelum masuk ke dalam materi pokok, lebih dahulu saya ingin mengajak para satria Sunda untuk tidak berhenti dan segan terus membicarakan dan memperjuangkan Ki Sunda. Jangan seperti yang sudah-sudah, takut disebut provinsialistis atau yang fanatik kesukuan yang mengancam keutuhan NKRI. Membicarakan dan memperjuangkan Ki Sunda sebagai
pernyataan cinta kepadanya, bukanlah fanatisme. Menurut riwayat, pernah ada tanya jawab antara Nabi saw. dengan beberapa sahabat. Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, kalau saya mincintai kaumku, apakah itu termasuk fanatik?” Rasulullah menjawab, “Bukan! Kalau kamu membantu kaummu berbuat kezaliman, itulah fanatik.”
Etnis Sunda bukan muncul begitu saja, melainkan sengaja diciptakan Allah SWT bersama-sama etnis yang lain dengan maksud saling mengenal. Yang paling mulia dari antara bangsa-bangsa itu ialah yang paling takwa (Q.S. 49:13). Orang Sunda mencintai Sunda dan segala yang berkait kepadanya, merupakan tanda syukur kepada Penciptanya. Karena itu, perjuangan Ki Sunda memuliakan Sunda bisa menjadi ibadah.
Kata orang bijak, “Sebuah peperangan dimulai di satu ruangan.” Walau tidak semua pembicaraan mewujud, tetap bangkitnya Sunda akan merupakan suatu peristiwa besar dan pasti akan berawal dari wacana. Agar wacana kita bisa menjadi kenyataan yang menguntungkan, bukan hanya marebutkeun paisan kosong mari kita arahkan wacana kita ke sana. Untuk itu diperlukan bukan hanya titik pemberangkatan yang sama tetapi sama pentingnya, sudut pandang yang sama. Mari kita samakan sudut pandang mulai dengan menyepakati siapa sebenarnya yang dimaksud Ki Sunda, sedang dalam keadaan bagaimana sekarang ini dan apa yang dikehendakinya.
Di samping banyak dari kita yang sudah biasa mendengar dan menggunakan kata “Ki Sunda”, hampir sama banyaknya yang masih bertanya-tanya mengapa memakai gelar “Ki” dan siapa sebenarnya “Ki Sunda” itu. “Ki” adalah sapaan hormat kepada lelaki dewasa, tetapi berusia lebih muda dari penyapa (Kamus Umum Basa Sunda BSS). Walau saya tidak tahu siapa yang pertama kali memberikannya dan kapan mulainya, saya yakin bahwa yang memberikan sapaan tidak menganggap Sunda lebih muda daripadanya, melainkan semata-mata dengan tujuan menghormat. Apakah yang dimaksud seluruh urang Sunda? Bisa saja, tetapi menurut perasaan saya, hampir sama dengan pendapat Dhipa, ada yang lebih khusus dari yang umum itu, yaitu sekelompok urang Sunda yang mencintai Sunda dan memperjuangkan kemuliaan Sunda. Mereka yang lebih pantas mendapat penghormatan itu. Mereka adalah elitenya urang Sunda.
Dalam kaitan ini Mira banyak menggunakan istilah roh Sunda atau roh kesundaan. Kalau yang disebut roh Sunda itu memang ada, saya yakin sekali sebelum roh Sunda itu lahir ada roh lain yang mendahuluinya yaitu roh dari Allah yang ditiupkan kepada setiap insan tatkala baru berumur sekira 100 hari dan masih berada dalam rahim ibunya (Q.S. 23:14 dan hadis qudsi tentang penciptaan manusia). Roh itu mengajak setiap manusia bertauhid kepada Allah walau dalam kenyataan banyak di antaranya yang membangkang. Manusia yang dikelompok-kelompok dalam berbagai bangsa diberi tempat menurut ketentuan Tuhan sendiri untuk menjalani kehidupan masing-masing. Alam sekitar tempat, keyakinan, dan filsafat hidup bangsa itu mewarnai roh asal tadi dan muncullah roh bangsa (ruh Sunda) yang mewujud menjadi budaya. Roh ini bisa ada kesamaannya dengan roh bangsa lain, tetapi perbedaannya pasti akan akan lebih banyak lagi.
Mengingat sejak sebelum Islam masuk ke tatar Sunda, urang Sunda sudah mempunyai keyakinan dan filsafat hidup (agama Sunda?) yang monoteistis seperti intinya ajaran Islam. Maka kalau kita menyebut Ki Sunda haruslah diartikan elite urang Sunda yang pantas dihormati karena mencintai dan memperjuangkan kemuliaan Sunda sebagai tanda bersyukur kepada Sang Pencipta. Itulah Ki Sunda. Roh yang menyemangati sepak terjang dan berembus dari kedalaman Ki Sunda. Menurut pemahaman saya, itulah roh Sunda. Semua produk Ki Sunda akan bermuatan roh itu.
Apakah Ki Sunda sudah punah (mati)? Benar, dalam sejarah kemanusiaan banyak kaum yang telah dipunahkan atau dibinasakan Allah SWT. Penyebabnya sama, kaum itu telah secara total membelakangi Tuhan. Punah atau mati atau dibinasakan bagi kaum yang mengalaminya adalah kiamat sagir. Kita harus percaya kepada apa yang disabdakan Nabi saw., “Belum akan terjadi kiamat sebelum timbul peperangan besar antara dua pasukan besar, antara keduanya timbul perang besar sedang seruan keduanya sama” (H.R. Bukhari). Dalam konteks kepunahan Sunda saya memahaminya tidak akan punah kaum Sunda, sebelum ada perang besar antara sesama Sunda dan seagama. Alhamdulillah sampai sekarang, dan mudah-mudahan untuk seterusnya, tidak terjadi perang saudara di antara urang Sunda.
Elite Sunda atau Ki Sunda dari generasi-generasi terdahulu bisa jadi sudah tiada. Tetapi yang punah itu bukan elitenya melainkan orang-orangnya. Bukan pula karena membelakangi Allah, melainkan karena waktunya sudah datang. Di sini berlaku pepatah, “Patah tumbuh hilang berganti. Sepanjang tidak terjadi perang saudara antara sesama Sunda dan sekeyakinan, selama itu pula kaum Sunda akan eksis dan selama itu pula Ki Sunda mustahil punah. Insya Allah.
Kaus ketat yang lebih populer dari kebaya Sunda dan berkurangnya pemakai bahasa Sunda di kalangan orang Sunda sendiri belum bisa diartikan bukti Sunda berada di ambang kepunahan. Benar kata Dhipa, tidak perlu kita mempermasalahkan kaus atau kebayanya, tetapi kesannya. Sebab, kalau model dan bentuknya yang akan dipermasalahkan apa yang hendak kita katakan mengenai rok dan blus, yang bukan asli pakaian Sunda tetapi sudah puluhan, bahkan bisa jadi ratusan tahun telah menjadi pakaian sehari-hari mojang-mojang Sunda?
Juga tentang pantalon, setelan jas, dan dasinya yang sudah lama biasa dipakai pria-pria Sunda. Tentang kesan sensualitas yang ditimbulkan kaus ketat pun sebenarnya tidak ada perlunya dipermasalahkan. Sebab, apa bedanya dengan kebaya yang sering dibuat ketat dan lahak diserasikan dengan kain panjang yang sama ketatnya sehingga mampu memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh? Berkurangnya pemakai bahasa Sunda memang seharusnya diprihatinkan. Tetapi tidak perlu dibesar-besarkan sebagai pengantar Ki Sunda ke ambang kepunahannya. Basa memang ciciren bangsa, tetapi bukan satu-satunya.
Geliatnya sekelompok urang Sunda tidak bisa dimungkiri memang sekarang sudah terasa. Terlepas dari apakah geliat itu merupakan proses penyembuhan dari yang sedang gering nangtung atau geliat lulungu orang bangun dari tidur panjang, atau geliat sedang berlangsungnya proses “patah tumbuh, hilang berganti” tak pelak lagi menunjukkan adanya kehidupan Ki Sunda yang patut disyukuri. Karena itu, kepada mereka yang berkata Ki Sunda berada di ambang kepunahan atau bahkan sudah punah, layak diucapkan, Na’udzubillahi min dzalik!!! Ssssst! Jaga mulut Anda!
Dengan keyakinan akan benarnya ungkapan orang Barat you are what you said, so watch your mouth mungkin sekali Mira akan menambahkan, “Kalau Anda, sebagai orang Sunda mengatakan Ki Sunda sudah mati atau sekurang-kurangnya sedang sekarat atau sudah putus asa atau sedang tidur panjang, Anda termasuk di dalamnya. Persamaan yang sangat menonjol antara mati, sekarat (di ambang kepunahan), putus asa dan tidur panjang adalah ketidakberdayaan”. Saya sendiri akan cenderung mengatakan, “Ih, palias teuing. Sieun katuliskeun jurig!” Nabi Muhammad saw., kepercayaan dan panutan kita sudah bersabda, “Kata-katamu adalah doamu!”
Mudah-mudahan kita semua sepakat, memang ada geliat perjuangan menjayakan kembali Ki Sunda di bidang poleksosbud. Perjuangan ini pasti nangtang pati, dalam arti memerlukan keuletan, kesabaran, dan pengorbanan karena memerlukan waktu yang lama dan bukan mudah. Sekali-kali bukan perjuangan melawan angin.
Kalau ini disepakati, mari kita teruskan dengan menyamakan persepsi tentang apa yang dikehendaki oleh Ki Sunda. Ki Sunda dengan karakteristik seperti digambarkan di atas, tidak bisa tidak pasti bercita-cita menjadi yang termulia di antara bangsa, paling sedikit di antara bangsa-bangsa pemilik NKRI tercinta ini. Sekalipun belum sampai ke tujuan akhir, perjuangannya sendiri akan memberikan saham yang sangat besar — kalau bukan yang menentukan –dalam mencapai cita-cita Pemda Jabar yang hendak menjadikan Jabar provinsi termaju dalam tahun 2010.
Perjuangan ini tidak akan bisa selesai oleh satu generasi. Tetapi segala perolehan suatu generasi akan bernilai sangat tinggi bagi generasi-generasi berikutnya. Sasaran antara yang konkret satrategis yang harus dan bisa dicapai oleh generasi sekarang adalah mencegah perang saudara sekecil dan dalam bentuk apa pun lewat jalan menyamakan persepsi, menyatukan segenap daya dan tenaga, mengoordinasikan langkah dan masing-masing tetap aktif di bidangnya masing-masing. Dur panjak!!!***(Penulis (alm.), urang Sunda tinggal di Bandung. Pikiran Rakyat, 04 Mei 2005.)
Sebelumnya:
MIRA R.G. WIRANATAKUSUMAH: Ki Sunda, Mustahil Akan Punah!
DHIPA GALUH PURBA: Ki Sunda Justru Telah Punah Lebih Awal
Anda dapat membaca respon Dhipa Galuh Purba atas tulisan ini pada website pribadinya, Nasib Ki Sunda dan Kematian Kucing yang tidak dipublikasikan oleh Pikiran Rakyat.

sumber :  http://sundaislam.wordpress.com/polemik/ki-sunda-siapa-dikau-dan-bagaimana-keadaanmu/

No comments:

Post a Comment

Hatur nuhun ka sadayana nu tos comment..